other thought

Cara Meminta Maaf Dengan Benar

Cara Meminta Maaf Dengan Benar

Pernahkah Anda bertanya apa proses yang terjadi sampai seseorang dapat memaafkan kesalahan yang telah dibuat oleh orang lain kepada dirinya?  Apakah hal tersebut terjadi hanya karena keikhlasan individu tersebut saja? Ataukah terdapat hal lain yang sebenarnya dapat kita lakukan untuk mendapatkan maaf atas kesalahan yang kita perbuat kepada orang lain?

Pada artikel kali ini, saya akan membahas mengenai 3 hal perlu kita terapkan dalam proses meminta maaf kepada seseorang untuk menjamin terbukanya pintu maaf dalam hati orang tersebut untuk memaafkan kesalahan yang telah kita perbuat kepada dirinya

 

Know It

Hal pertama yang harus Anda ketahui adalah TAHU terlebih dahulu apa kesalahan yang Anda buat!

Kenapa? Karena dengan mengetahui apa kesalahan Anda, hal tersebut dapat MENJAMIN diri Anda untuk tidak lagi MENGULANGI kesalahan yang sama untuk kedua kalinya

Di saat kita ingin meminta maaf kepada seseorang, amatlah susah untuk benar-benar mendapatkan maaf dari orang tersebut apabila kita sendiri tidak mengetahui dengan benar apa kesalahan yang telah kita perbuat

Apabila Anda benar-benar tidak tahu apa kesalahan yang telah Anda perbuat, Anda dapat mencoba bertanya akan apa kesalahan yang Anda miliki secara langsung kepada orang tersebut; dan beritahu bahwa tujuan Anda bertanya adalah untuk meminta maaf dan memperbaiki kesalahan yang telah Anda lakukan

 

MEAN IT

Hal berikutnya yang harus diperhatikan adalah Anda harus BERSUNGGUH-SUNGGUH dalam meminta maaf kepada orang yang telah Anda lukai perasaannya

Anda tidak perlu berlebihan dalam menunjukan kesungguhan Anda dalam meminta maaf, namun kesungguhan diri Anda tetap HARUS Anda tunjukkan

Banyak orang di luar sana yang ‘tidak suka’ jika diminta menurunkan ego mereka, mengaku bahwa mereka telah berbuat kesalahan, dan akhirnya membuat orang yang mereka perlakukan dengan tidak baik merasa bahwa mereka tidak bersungguh-sungguh dalam meminta maaf atau malah terkesan menyepelekan kesalahan yang telah mereka buat

Anda TIDAK BOLEH menjadi orang seperti itu

Miliki lah kerendahan hati untuk mengakui kesalahan yang telah Anda buat dan miliki komitmen untuk memperbaiki hal yang telah Anda perbuat tersebut

 

CHANGE IT

Hal berikutnya yang paling tepat Anda lakukan untuk menunjukkan bahwa Anda telah menyadari apa kesalahan yang telah Anda perbuat dan bahwa Anda bersungguh-sungguh meminta maaf akan hal tersebut adalah dengan MERUBAH sikap dan perilaku Anda kepada orang tersebut

Mengubah sikap disini bukan berarti Anda menjadi “ngebaik-baikin” (baca: menyuap) orang tersebut agar kemudian memaafkan diri Anda

Namun, benar-benar MENYADARI kesalahan yang telah Anda buat dan kemudian BERKOMITMEN untuk mengubah diri Anda agar TIDAK LAGI melakukan hal tersebut

Jika Anda benar-benar tidak tahu apa yang harus Anda lakukan untuk mengubah kesalahan yang telah Anda buat pada situasi seperti ini, Anda bisa kembali langsung menanyakan kepada orang tersebut apa hal yang dapat Anda lakukan untuk memperbaiki kesalahan Anda

 

Mungkin sampai sini, sebagian dari Anda akan bertanya:

“Namun, bagaimana kalau saya sudah melakukan semua hal di atas, tetapi orang tersebut masih belum mau memaafkan saya?”

Selama Anda setidaknya sudah melakukan ketiga hal yang telah disebutkan diatas, keputusan untuk memberikan maaf atas kesalahan Anda bukanlah lagi merupakan tanggung jawab diri Anda

Hal yang terpenting disini adalah bahwa Anda sudah menyadari, mengakui, dan merubah perilaku Anda seperti yang telah saya jelaskan diatas; keputusan akhirnya apakah Anda akan dimaafkan atau tidak, biarkanlah Anda serahkan kepada orang tersebut agar dirinya sendiri yang memutuskan

 

Kita juga perlu mengingat bahwa setiap orang memiliki ‘toleransi’ waktu mereka masing-masing dalam memaafkan kesalahan yang telah orang lain buat, yang dapat kita lakukan hanyalah merubah perilaku dan sikap kita agar tidak kembali mengulang kesalahan yang telah kita lakukan

Jadi ini semua adalah tentang MENGUBAH perilaku/ sifat buruk/ kesalahan DIRI ANDA SENDIRI, BUKAN tentang ‘menyogok’ seseorang agar mau memaafkan kesalahan yang telah Anda buat

.

.

.

 

Sebagai manusia, tentu dalam kehidupan sehari-hari kita tidak pernah luput dari yang namanya melakukan kesalahan; baik dalam bersikap, berucap, maupun berkelakuan

Dan seringkali, tanpa pernah kita maksud atau kita sadari, hal yang kita lakukan tersebut menyakiti hati atau melukai perasaan orang yang menerima

Pada saat seperti itu, ada baiknya kita merendahkan sedikit ego diri kita dan berbesar hati mengakui kesalahan yang kita perbuat, dan berkomitmen untuk memperbaiki hal tersebut agar tidak terulang kembali untuk kedua kalinya

 

Semoga artikel kali ini bermanfaat untuk diri Anda, sampai jumpa pada artikel berikutnya!

 

Klik disini untuk menonton video dari artikel di atas:

Klik disini untuk versi audio dari artikel di atas:

 

Posted by Yanuar D Liwang in blog, 0 comments
Rekomendasi Buku Selama #DiRumahAja

Rekomendasi Buku Selama #DiRumahAja

Pada artikel sebelumnya, saya memberi rekomendasi mengenai beberapa hal yang dapat kita lakukan agar tetap produktif selama #DiRumahAja; salah satu kegiatan yang saya rekomendasikan pada artikel tersebut adalah membaca buku

Pada artikel kali ini, saya akan memberi beberapa rekomendasi judul buku yang dapat Anda baca untuk mengisi waktu Anda selama #DiRumahAja

The Courage To Be Disliked (Ichiro Kishimi / Fumitake Koga)

Tadinya saya mau memberi rekomendasi buku “The Subtle Art of Not Giving A Fck” dan ‘Everything is Fcked Up” karya Mark Manson, tapi saya pikir karena kedua buku itu sudah banyak menjadi rekomendasi dimana-mana, jadi saya pilih untuk merekomendasikan buku ini

Inti yang ingin disampaikan buku ini SAMA dengan yang ingin disampaikan oleh Mark Manson pada kedua buku di atas; namun menurut saya buku “Berani Tidak Disukai” (versi judul Bahasa Indonesia) ini lebih baik dalam cara menyampaikan pesannya

Jika Anda belum sempat membaca kedua buku Mark Manson yang saya sebut diatas, lebih baik hemat waktu Anda dengan membaca satu buku saja, yaitu buku ini

The War of Art & Turning Pro (Steven Pressfield)

Kedua buku ini merupakan buku kembar yang cocok bagi Anda yang ingin belajar bagaimana caranya untuk memiliki sifat professional, memiliki work ethic yang baik, serta (yang paling penting) BERHENTI MENUNDA-NUNDA hal yang seharusnya Anda lakukan

Kedua buku ini membahas hal-hal yang sederhana namun PENTING untuk kita ingat, ketika dihadapkan dengan berbagai macam ‘distraction’ dan ‘procrastination’ yang sering kali justru kita lakukan pada saat kita seharusnya bekerja

Satu quote yg saya suka dari buku ini “Yang susah itu bukan saat kita menulis, namun memutuskan untuk duduk diam, lalu kemudian menulis”. Kedua buku ini akan lebih baik jika dibaca secara berdampingan untuk pengertian yang lebih mendalam

King, Warrior, Magician, Lover (Robert Moore / Douglas Gillette)

Buku yang satu ini saya rekomendasikan khusus untuk Anda yang menyukai tipe kepribadian, pengembangan diri, serta ‘CINTA-CINTAAN’ alias cocok jika Anda sering bertanya kepada diri Anda sendiri: “Tipe seperti apa sih yang cocok untuk menjadi pasangan saya?”

Buku ini mengajak kita untuk mengenal tipe diri kita sendiri terlebih dahulu, lalu bukan hanya sekedar mencari tahu tipe seperti apa yang cocok untuk diri kita, namun juga mencari tahu tipe kepribadian pasangan seperti apa yang dapat mendorong diri kita untuk menjadi pribadi yang lebih baik

Jika Anda suka bermain video game RPG, saya YAKIN Anda akan sangat menikmati hal yang dibahas dalam buku ini. Buku ini lebih ditujukan untuk Laki-Laki, namun boleh juga dibaca oleh Perempuan. Jika terdapat HANYA satu buku yang perlu Anda baca untuk mengetahui hal-hal penting seperti yang telah saya sebutkan diatas, inilah buku tersebut!

.
.
.

Itulah sebagian judul buku yang saya rekomendasikan untuk Anda baca selama #DiRumahAja beberapa waktu belakangan ini

Jika Anda sudah pernah membaca salah satu dari ke-empat judul buku yang saya rekomendasikan di atas, beritahu saya pendapat Anda mengenai buku tersebut pada kolom komentar di bawah

Serta beritahu saya juga jika Anda memiliki rekomendasi buku yang menarik untuk dibaca selama periode waktu #DiRumahAja ini agar kita dapat mengisi waktu yang kita miliki dengan bermanfaat

Baca bukunya dan beritahu saya pendapat Anda!

PS: Join Newsletter saya pada form di pojok kanan atas halaman ini agar tidak ketinggalan artikel maupun informasi terbaru dari saya ya!

 

Klik disini untuk menonton versi video dari artikel kali ini:

Klik disini untuk mendengarkan versi Audio dari artikel kali ini:

 

Posted by Yanuar D Liwang in blog, 0 comments
Virus Corona Versi Manusia

Virus Corona Versi Manusia

Pada saat artikel ini saya tulis, umat manusia sedang dihadapkan dengan situasi yang belum pernah terjadi sebelumnya. Virus Corona menyebar ke seluruh dunia. Berbagai negara melakukan lock down, masyarakat diwajibkan berdiam diri di rumah, semua kegiatan umum dihentikan sampai batas waktu yang belum dapat ditentukan

Virus Corona dianggap begitu berbahaya dan dapat mengancam kelangsungan hidup manusia

Tapi tahukah Anda, dalam kehidupan sehari-hari sekalipun, terdapat beberapa jenis manusia di luar sana yang sama berbahayanya serta dapat mengancam kelangsungan hidup Anda bagaikan Virus Corona?

Pada artikel kali ini saya akan membahas 3 tipe perilaku manusia yang sudah bagaikan virus corona jika sampai masuk ke dalam kehidupan Anda

 

The Cynical

James Allen dalam bukunya yang berjudul “As A Man Thinketh” menjelaskan bahwa orang-orang sinis (Cynics) merupakan sebutan untuk suatu kaum pada zaman Yunani kuno yang dibenci oleh masyarakat karena sifat arogan dan sarkastik yang mereka miliki terhadap nilai-nilai kebaikan yang ada

Anda pasti pernah khan, bertemu orang yang selalu meremehkan dan merendahkan Anda dalam setiap tindakan apapun yang Anda lakukan? Itulah kaum Cynics!

Mereka iri, sirik, dan sebenarnya sadar akan potensi dan kemampuan yang diri Anda miliki, namun mereka tidak ingin kalau Anda sampai mewujudkan potensi yang terdapat dalam diri Anda tersebut dan menjadi orang yang lebih baik daripada diri mereka

Kata ‘Cynics’ sendiri memiliki arti (binatang) ‘Anjing’ dalam bahasa Yunani, maka dari itu wajar jika di saat Anda berhadapan dengan orang seperti itu, Anda seringkali ingin berkata “Dasar Anj*#%!” kepada diri mereka; kini Anda tahu apa yang menjadi alasannya

Apabila Anda sampai bertemu dengan orang yang seperti itu, segera lakukan Social Distancing alias JAGA JARAK JAUH-JAUH agar tidak tertular sifat yang mereka miliki !

Si Om-Do

Bayangkan Anda bertemu orang yang sudah lama tidak memiliki pekerjaan pergi menghadiri suatu acara Job Fair, atau Anda melihat orang yang mempunyai kelebihan berat badan sedang berolahraga di Gym; apa yang terlintas dalam pikiran Anda ketika melihat kedua situasi tersebut?

Apapun hal yang muncul dalam pikiran Anda, satu hal yang dengan pasti dapat kita katakan adalah: hal yang dilakukan orang-orang tersebut adalah hal yang WAJAR. Sudah sewajarnya seseorang yang berada dalam situasi kurang menyenangkan untuk menginginkan keadaan yang lebih baik dari yang mereka miliki sekarang, dan bergerak mengambil tindakan untuk mewujudkan hal tersebut

Namun, bukan hal seperti itu yang terdapat dalam pikiran “manusia virus corona” tipe kedua yang akan kita bahas berikutnya

Mereka adalah kaum OM-DO (Omong Doank)

Manusia Virus Corona tipe “Omong Doank” memiliki kesalahan berlogika yang selalu mereka jadikan sebagai ‘pembenaran’ bagi diri mereka untuk tidak melakukan apa-apa. Mereka memiliki pemikiran “Apapun yang saya lakukan, hasilnya akan sama saja. Kalau begitu, buat apa saya berusaha?”

Mereka ‘hobi’ mengeluh akan keadaan yang mereka miliki, membual akan hal-hal yang mereka bilang akan mereka lakukan, namun pada akhirnya hanya bisa ‘omong doank’, bertolak belakang dengan apapun yang telah mereka katakan sebelumnya

Tipe orang seperti inilah yang jika dihadapkan dengan situasi yang kita bayangkan di atas, justru akan menertawakan orang-orang yang sedang berusaha memperbaiki keadaan mereka. Padahal, siapa yang seharusnya paling patut ditertawakan? Ya tentu si manusia Omong Doank ini! Karena dirinya hanya bisa Om-Do, tidak berani merubah keadaan hidup mereka sampai kapanpun juga, karena kesalahan berlogika yang mereka miliki

Jika Anda bertemu orang seperti ini, segera berikan diri mereka MASKER untuk MENUTUP MULUT mereka

The Narcissist

Manusia Virus Corona tipe ketiga yang akan kita bahas berikutnya ini adalah tipe yang paling berbahaya dan harus Anda jauhi dengan alasan apapun!

Mereka adalah tipe orang-orang sombong, narsis, dan congkak

Sombong disini bukan dalam arti orang yang memang bisa melakukan sesuatu dan menunjukan kemampuannya melakukan hal tersebut; namun justru sebaliknya, yaitu orang-orang yang TIDAK BISA melakukan sesuatu, namun malah berpikir orang lain SAMA tidak bisanya seperti diri mereka!

Tipe ketiga ini sebenarnya cukup ‘unik’, karena mereka sendiri sebenarnya sadar akan ketidakmampuan diri mereka. Mereka merasa malu dan minder akan hal tersebut, namun untuk ‘mengobati’ luka hati yang mereka miliki akan ketidakmampuan diri mereka tersebut, mereka malah berpikir “Kalo gw aja gak bisa, apalagi orang lain?”

Lucu bukan?

Perilaku seperti ini disebut juga dengan sifat “Narsisisme”

Jika Anda sampai bertemu dengan orang seperti ini, segera LOCK DOWN diri Anda! Jangan sampai melakukan kontak atau memiliki hubungan apapun dengan orang-orang yang memiliki sifat tersebut!

Karena jika Anda sampai memiliki hubungan dengan orang seperti itu, bersiap-siaplah, karena apapun yang terjadi mulai sekarang, semuanya adalah salah Anda! Karena tidak ada hal yang mampu mengurangi ‘kesempurnaan’ diri mereka, itulah ciri khas orang narsistik!

.
.
.

Virus Corona yang kini sedang mewabah di seluruh dunia tentu menjadi perhatian. Orang-orang kini mulai sadar untuk lebih menjaga kesehatan diri mereka agar tidak terkena penyakit tersebut. Namun, selain virus, kita perlu sadari juga terdapat beberapa tipe manusia di luar sana yang jika kita biarkan berada di dalam hidup kita, dapat membawa penyakit masuk, layaknya virus corona

Jagalah kesehatan diri kita, tidak hanya sekedar kesehatan fisik, namun juga kesehatan mental dan emosional diri kita, dengan cara menjauhi hal-hal maupun orang-orang yang dapat menjadi sumber masuknya penyakit ke dalam hidup kita; salah satunya adalah dengan menjauhi “Virus Corona Versi Manusia” seperti yang telah saya sebutkan di atas

Semoga Anda, keluarga, dan orang-orang yang Anda cintai selalu diberikan kesehatan

Sampai jumpa pada artikel berikutnya!

Klik disini untuk menonton versi video dari artikel di atas:

Klik disini untuk mendengarkan versi audio dari artikel di atas:

 

 

Posted by Yanuar D Liwang in blog, 0 comments
Ketika Orang Tua Menghalangi Mimpi Anda

Ketika Orang Tua Menghalangi Mimpi Anda

Dalam perjalanan mencapai impian kita, seringkali kita menghadapi berbagai perlawanan yang datangnya justru dari orang-orang yang paling dekat dengan kita; terutama orang tua

Ketika orang tua menjadi penghalang terbesar dalam mencapai hal yang kita inginkan, maka apa yang sebaiknya kita lakukan?

Pada artikel kali ini, saya akan membagikan pemikiran maupun pengalaman pribadi saya dalam menghadapi masalah seperti ini

 

Hal pertama yang harus kita tanyakan kepada diri kita sendiri ketika dihadapkan pada situasi seperti itu adalah: “Memangnya siapa yang menjalani hidup saya?”

Jika jawaban Anda adalah “Tentu, diri saya sendiri”, maka bukankah wajar jika diri Anda sendirilah yang berhak menentukan apa yang mau Anda lakukan dengan hidup Anda?

Memang tidak mudah berhadapan dengan orang tua sendiri, namun Anda harus berani mempunyai PENDIRIAN untuk memperjuangkan mimpi Anda, walaupun jika harus sampai MELAWAN orang tua Anda sendiri

Melawan disini bukan berarti adu fisik dengan orang tua Anda, saya tidak menyarankan hal seperti itu (walaupun saya juga tidak naif, banyak orang tua yang dapat bersikap sangat kasar terhadap anak mereka sendiri; jika orang tua Anda seperti itu, Anda harus dapat membela diri Anda sendiri secara fisik)

Melawan yang saya maksud disini adalah melawan secara PIKIRAN dan MENTAL

Dasarnya adalah pemikiran kita di awal tadi. Jika Anda merasa bahwa diri Anda sendiri lah yang akan menjalani hidup Anda, maka sudah sewajarnya Anda yang menentukan sendiri jalan hidup yang ingin Anda jalani

Saya memiliki seorang teman yang ketika sudah lulus kuliah, dia langsung bekerja di perusahaan besar, memiliki gaji tinggi, serta nampak seperti orang “sukses” jika dibandingkan dengan teman-teman lain yang lulus seangkatan dengan dirinya; jika Anda melihat keadaan teman saya dari luarnya saja, mungkin Anda akan kagum sekaligus iri akan pencapaiannya yang telah ia peroleh dengan cepat setelah lulus kuliah

Namun kemudian dia curhat bahwa hal yang dilakukannya sekarang bukanlah hal yang sebenarnya dia inginkan, tidak pernah ingin dia lakukan, serta merupakan keputusan yang dibuat oleh orang tuanya untuk dia jalani, bukan keputusan yang dibuat oleh dirinya sendiri

Setiap hari dia melakukan hal yang tidak ia inginkan, kerap berwajah murung, serta tidak memiliki semangat untuk menjalani kehidupan. Bukankah sedih ketika kita dilihat “berhasil” dari luar oleh orang-orang di sekitar kita, namun kita sendiri tahu bahwa hal tersebut tidak sesuai dengan apa yang kita rasakan di dalam?

 

Di saat Anda memilih untuk mengikuti kata hati diri Anda sendiri, seburuk-buruknya hal yang kemudian mungkin akan terjadi, hal tersebut merupakan tanggung jawab dan konsekuensi yang Anda terima karena hasil pilihan diri Anda sendiri

Namun ketika Anda mengalah dan mengikuti apa kata orang lain, lalu kemudian hal buruk terjadi menimpa diri Anda, memangnya siapa orang yang menurut Anda akan bertanggung jawab dan menderita karena mengalami hal buruk tersebut? Orang lain yang membuat keputusan untuk diri Anda tersebut? Tentu TIDAK! Diri ANDA sendiri lah yang akan MENDERITA mengalami hal tersebut

Sedangkan orang yang membuat keputusan untuk diri Anda paling hanya dapat berpangku tangan sambil berkata: “Ya, Mama/ Papa khan gak tau ‘Dek kalo ternyata akhirnya bakal kayak gitu…”

Anda mau menjadi orang seperti itu?

Satu hal lagi yang ingin saya bagikan (Anda mungkin akan TIDAK SETUJU dengan hal ini, namun saya akan tetap membagikan pemikiran saya) adalah bahwa saya bukan merupakan orang yang terlalu percaya atau menghargai status maupun jabatan apa yang dimiliki oleh seseorang

Bukan berarti saya jadi bersikap tidak hormat atau semacamnya, namun biasanya saya akan melihat terlebih dahulu apakah PERILAKU orang tersebut sesuai dengan status atau jabatan yang mereka miliki

Memiliki status sebagai “Orang Tua” (atau status apapun itu) TIDAK PERNAH memberi seseorang hak untuk mengatur kehidupan orang lain (baca: Anak) seenaknya, sesuai dengan keinginan hati mereka, demi kepentingan diri mereka sendiri, selayaknya barang yang bisa mereka pakai dan gunakan

Banyak orang di luar sana, yang jika dinilai dari PERILAKU mereka terhadap anak mereka, tidak pantas menyandang status sebagai Orang Tua

Mereka memaksakan mimpi yang tidak pernah (atau tidak berani) mereka jalani kepada si anak, mengancam anak jika tidak menuruti apa kemauan mereka, ataupun mengungkit-ungkit hal yang pernah mereka berikan (yang mungkin memanglah suatu bentuk KEWAJIBAN yang harus mereka lakukan sebagai orang tua). Atau mungkin lebih parah lagi, merendahkan dan menghina mimpi si anak, atas dasar pemikiran “Bapak/ Ibu aja gak bisa, apalagi kamuuu??”

Di saat Anda melihat kenyataan seperti itu (yang banyak terjadi di luar sana) di hadapan Anda, apakah Anda masih akan menilai orang yang berkelakuan seperti itu pantas disebut sebagai “Orang Tua” ?
.
.
.

 

Ketika Anda memiliki suatu hal yang ingin Anda lakukan dan Anda tahu di dalam hati Anda bahwa hal tersebut adalah hal yang benar, maka Anda harus berani memperjuangkan hal tersebut; bahkan jika harus sampai melawan orang tua diri Anda sendiri

Sekali lagi, melawan disini bukan berarti adu fisik, melainkan melawan secara mental dan pemikiran

Tidak pernah mudah dalam hal yang namanya menjalani mimpi. Banyak tantangan dan rintangan yang harus kita hadapi, bahkan jika hal tersebut datangnya adalah dari orang-orang terdekat. Di saat seperti itulah keteguhan hati kita diuji; apakah kita akan menyerah dan mengikuti apa kata orang lain, atau tetap berpendirian sesuai dengan kata hati yang kita miliki

Apapun yang menjadi pilihan diri Anda, pastikan hal tersebut merupakan keputusan yang dibuat oleh diri Anda sendiri, dan bukan dibuat oleh orang lain

PS: Silahkan Anda cari dan tonton film “JOY” (dibintangi oleh Jennifer Lawrence) yang menceritakan kisah nyata perjuangan milyuner Joy Mangano dalam mencapai impiannya, walau banyak dihalangi oleh orang-orang terdekatnya

Yanuar D Liwang

________________________
Klik untuk menonton versi video dari artikel ini di Youtube:

Klik untuk mendengarkan versi audio dari artikel ini di Spotify:

________________________

Posted by Yanuar D Liwang in blog, 0 comments
Apakah MASCULINITY itu TOXIC ?

Apakah MASCULINITY itu TOXIC ?

Belakangan ini kita seringkali mendengar hal yang disebut dengan “Toxic Masculinity”

Tapi apakah hal tersebut sebenarnya? Apakah benar Masculinity, secara keseluruhan, adalah Toxic?

Pada artikel kali ini saya akan membahas mengenai hal tersebut dan memberikan pandangan saya akan apa Toxic Masculinity itu sebenarnya

Sebelum membahas mengenai Toxic Masculinity, saya ingin memperkenalkan Anda kepada dua konsep yang amat sangat berbeda satu sama lain, yaitu konsep “a Boy” dan “a Man”

“a Boy”, sama seperti namanya, mengacu kepada “laki-laki yang sikap dan perilakunya masih seperti anak kecil, tidak dewasa, terlepas dari seberapa tua pun usianya”

Sebaliknya, “a Man” mengacu kepada “laki-laki yang dewasa dalam bersikap dan berperilaku terlepas dari berapapun usia mereka”

Jadi:

A Boy = Immature Child
A Man = Mature Adult

Hal yang membedakan keduanya adalah “Maturity” atau tingkat kedewasaan mereka

Nah, Toxic Masculinity yang sering menjadi pembicaraan belakangan ini sebenarnya adalah merupakan “a boy’s poor attempt at being a man” (upaya/ tiruan ‘murahan’ seorang “a boy” dalam menjadi “a Man”)

Makanya banyak dari mereka yang nampak mempunyai pikiran bahwa “kuat” itu berarti mengintimidasi, kasar, berandal, dsb; dan bukan malah bersikap melindungi, memimpin, menjaga, dan lain-lain

Bukan berarti semata-mata orang yang berperilaku seperti itu adalah orang yang tidak baik, namun mereka hanya tidak mengerti menjadi “a Man” yang sesungguhnya itu adalah menjadi orang yang seperti apa

Satu hal lagi yang sering menjadi bahasan dalam “Toxic Masculinity” adalah “kebiasaan” laki-laki dalam “menahan” emosi mereka. Well, saya langsung saja jelaskan perbedaan antara “a Man” dan “a Boy” dalam berhadapan dengan emosi mereka…

a Man = Get in Touch with their feelings
a Boy = Doesn’t get in touch with their feelings

Seorang “a Man” mengerti bagaimana cara mengelola dan menyalurkan emosi (negatif) yang mereka miliki, sedangkan “a Boy” tidak terlalu tahu bagaimana cara menyalurkan emosi mereka

Itulah sebabnya mengapa “a Boy” seringkali nampak “tidak memiliki perasaan” atau malah “ngamuk-ngamuk” tidak bisa mengontrol emosi mereka

Sekali lagi, bukan berarti semata-mata mereka adalah orang yang tidak baik, namun mereka hanyalah tidak tahu bagaimana cara menyalurkan emosi mereka dengan benar

Jika sampai sini Anda bertanya, “Apabila seorang laki-laki dapat memiliki sikap toxic karena kurang memiliki kedewasaan dan tidak tahu bagaimana caranya menyalurkan emosi mereka dengan benar, apakah seorang perempuan dapat memiliki perilaku toxic dikarenakan hal yang sama juga?”

Jawabannya TENTU SAJA

Konsep “a Girl” dan “a Woman” juga berlaku kepada Perempuan

Anda pasti pernah melihat perempuan yang sudah cukup umur namun masih berkelakuan seperti anak kecil khan? atau lebih buruk lagi, Perempuan yang bersikap kasar dan jahat kepada perempuan lain karena tidak tahu cara menyalurkan emosi negatif mereka? Jika Anda cukup bergaul, saya yakin Anda pasti pernah bertemu atau melihat orang seperti itu di luar sana

Hal inilah yang seringkali disalah pahami oleh orang-orang yang menyebut diri mereka “feminis”. Mereka berpikir agar Laki-Laki lebih “sehat” dalam berurusan dengan emosi mereka, maka Laki-Laki harus lebih “seperti Perempuan” (baca: feminin)

Saya akui, dari sananya perempuan memang lebih pintar dalam berurusan dengan emosi mereka dibandingkan Laki-Laki. Namun jika ada yang berpikir bahwa agar Laki-Laki lebih pintar dalam berurusan dengan emosi mereka maka mereka harus “lebih feminin”, hal tersebut TIDAK TEPAT SAMA SEKALI

Menjaga kesehatan mental dan emosional Anda dari sikap toxic TIDAK ADA HUBUNGANNYA SAMA SEKALI dengan femininitas, maskulinitas, maupun perbedaan jenis kelamin Laki-Laki dan Perempuan

Kenapa? Karena jika memiliki sifat “feminin” saja dapat membuat seseorang menjadi lebih “sehat” dalam menjaga kesehatan emosi mereka, TIDAK ADA Perempuan yang TIDAK SEHAT mentalnya di luar sana

SIKAP TOXIC dapat dimiliki SIAPA SAJA, tidak peduli apakah pemiliknya memiliki sifat maskulin, feminin, ataupun apa jenis kelamin pemiliknya

Hal yang dibutuhkan (baik oleh “a Boy” maupun “a Girl”) untuk menjaga diri mereka dari memiliki sikap toxic adalah KEDEWASAAN dan KECERDASAN EMOSIONAL!

Mereka perlu tahu bagaimana caranya menyalurkan emosi mereka dengan cara sehat, dalam bentuk yang positif, serta yang paling penting TIDAK MENYAKITI diri mereka sendiri maupun ORANG LAIN

Hal ini TIDAK ADA HUBUNGANNYA SAMA SEKALI dengan sifat FEMININ, MASKULIN, atau perbedaan JENIS KELAMIN

Satu hal lagi yang perlu kita mengerti dari orang-orang yang memiliki sikap toxic dalam diri mereka (baik Laki-Laki maupun Perempuan) adalah kemungkinan bahwa mereka memiliki “luka”

Mereka mungkin memiliki “luka” karena pernah disakiti oleh orang lain, mungkin mereka “terluka” karena tidak mengerti apa hal yang seharusnya mereka lakukan untuk menyalurkan emosi negatif mereka, mungkin mereka terluka karena ingin menjadi “a Man/ a Woman” tapi tidak pernah mempunyai ROLE MODEL (Teladan/ Panutan) yang baik dalam menjadi hal tersebut

Lalu, jika mereka terluka kenapa kita tidak membantu mereka?
.
.
.

My Final Point is this…

Terdapat terlalu banyak negatifitas dan kebencian yang tersebar di antara kedua belah jenis kelamin belakangan ini yang disebabkan oleh kekurang pahaman akan hal yang telah saya jelaskan di atas

Dan seperti yang telah saya katakan, jika kita tahu bahwa alasan mereka melakukan hal tersebut karena mereka memiliki luka, kenapa kita tidak membantu mereka?

Tentu ini bukan menjadi pembenaran akan sikap-sikap “toxic” yang mereka lakukan

It sucks ketika kita menjadi pelampiasan emosi negatif orang-orang belum dewasa yang tidak tahu caranya menyalurkan emosi mereka dengan benar, dan wajar jika Anda menginginkan “keadilan” atas hal tersebut

Namun “keadilan” bukanlah hal yang sama dengan “balas dendam”, menjadi jahat dan menyebarkan kebencian juga TIDAK AKAN MEMBANTU dalam menyelesaikan hal tersebut

Berbuatlah baik dan sebarkanlah kebaikan

Bukankah kita diciptakan berbeda-beda tujuannya adalah untuk saling mengenal?

Dosen mata kuliah Paradigma Feminis saya pernah berkata bahwa “Laki-laki dan Perempuan memang diciptakan berbeda, namun bukan untuk dibeda-bedakan”

Lalu jika saya boleh menambahkan, “melainkan untuk di-satu-kan dalam perbedaan tersebut”

Be the LOVE you want to see in the world

 

Yanuar D Liwang

~

Butuh konsultasi untuk menyelesaikan masalah Anda? Hubungi saya disini

Ingin artikel seperti ini dikirimkan langsung kepada Anda via e-mail setiap minggunya? Subscribe ke Mailing List kami pada form di pojok kanan atas halaman ini !

Posted by Yanuar D Liwang in blog, 0 comments