Apakah MASCULINITY itu TOXIC ?

Belakangan ini kita seringkali mendengar hal yang disebut dengan “Toxic Masculinity”

Tapi apakah hal tersebut sebenarnya? Apakah benar Masculinity, secara keseluruhan, adalah Toxic?

Pada artikel kali ini saya akan membahas mengenai hal tersebut dan memberikan pandangan saya akan apa Toxic Masculinity itu sebenarnya

Sebelum membahas mengenai Toxic Masculinity, saya ingin memperkenalkan Anda kepada dua konsep yang amat sangat berbeda satu sama lain, yaitu konsep “a Boy” dan “a Man”

“a Boy”, sama seperti namanya, mengacu kepada “laki-laki yang sikap dan perilakunya masih seperti anak kecil, tidak dewasa, terlepas dari seberapa tua pun usianya”

Sebaliknya, “a Man” mengacu kepada “laki-laki yang dewasa dalam bersikap dan berperilaku terlepas dari berapapun usia mereka”

Jadi:

A Boy = Immature Child
A Man = Mature Adult

Hal yang membedakan keduanya adalah “Maturity” atau tingkat kedewasaan mereka

Nah, Toxic Masculinity yang sering menjadi pembicaraan belakangan ini sebenarnya adalah merupakan “a boy’s poor attempt at being a man” (upaya/ tiruan ‘murahan’ seorang “a boy” dalam menjadi “a Man”)

Makanya banyak dari mereka yang nampak mempunyai pikiran bahwa “kuat” itu berarti mengintimidasi, kasar, berandal, dsb; dan bukan malah bersikap melindungi, memimpin, menjaga, dan lain-lain

Bukan berarti semata-mata orang yang berperilaku seperti itu adalah orang yang tidak baik, namun mereka hanya tidak mengerti menjadi “a Man” yang sesungguhnya itu adalah menjadi orang yang seperti apa

Satu hal lagi yang sering menjadi bahasan dalam “Toxic Masculinity” adalah “kebiasaan” laki-laki dalam “menahan” emosi mereka. Well, saya langsung saja jelaskan perbedaan antara “a Man” dan “a Boy” dalam berhadapan dengan emosi mereka…

a Man = Get in Touch with their feelings
a Boy = Doesn’t get in touch with their feelings

Seorang “a Man” mengerti bagaimana cara mengelola dan menyalurkan emosi (negatif) yang mereka miliki, sedangkan “a Boy” tidak terlalu tahu bagaimana cara menyalurkan emosi mereka

Itulah sebabnya mengapa “a Boy” seringkali nampak “tidak memiliki perasaan” atau malah “ngamuk-ngamuk” tidak bisa mengontrol emosi mereka

Sekali lagi, bukan berarti semata-mata mereka adalah orang yang tidak baik, namun mereka hanyalah tidak tahu bagaimana cara menyalurkan emosi mereka dengan benar

Jika sampai sini Anda bertanya, “Apabila seorang laki-laki dapat memiliki sikap toxic karena kurang memiliki kedewasaan dan tidak tahu bagaimana caranya menyalurkan emosi mereka dengan benar, apakah seorang perempuan dapat memiliki perilaku toxic dikarenakan hal yang sama juga?”

Jawabannya TENTU SAJA

Konsep “a Girl” dan “a Woman” juga berlaku kepada Perempuan

Anda pasti pernah melihat perempuan yang sudah cukup umur namun masih berkelakuan seperti anak kecil khan? atau lebih buruk lagi, Perempuan yang bersikap kasar dan jahat kepada perempuan lain karena tidak tahu cara menyalurkan emosi negatif mereka? Jika Anda cukup bergaul, saya yakin Anda pasti pernah bertemu atau melihat orang seperti itu di luar sana

Hal inilah yang seringkali disalah pahami oleh orang-orang yang menyebut diri mereka “feminis”. Mereka berpikir agar Laki-Laki lebih “sehat” dalam berurusan dengan emosi mereka, maka Laki-Laki harus lebih “seperti Perempuan” (baca: feminin)

Saya akui, dari sananya perempuan memang lebih pintar dalam berurusan dengan emosi mereka dibandingkan Laki-Laki. Namun jika ada yang berpikir bahwa agar Laki-Laki lebih pintar dalam berurusan dengan emosi mereka maka mereka harus “lebih feminin”, hal tersebut TIDAK TEPAT SAMA SEKALI

Menjaga kesehatan mental dan emosional Anda dari sikap toxic TIDAK ADA HUBUNGANNYA SAMA SEKALI dengan femininitas, maskulinitas, maupun perbedaan jenis kelamin Laki-Laki dan Perempuan

Kenapa? Karena jika memiliki sifat “feminin” saja dapat membuat seseorang menjadi lebih “sehat” dalam menjaga kesehatan emosi mereka, TIDAK ADA Perempuan yang TIDAK SEHAT mentalnya di luar sana

SIKAP TOXIC dapat dimiliki SIAPA SAJA, tidak peduli apakah pemiliknya memiliki sifat maskulin, feminin, ataupun apa jenis kelamin pemiliknya

Hal yang dibutuhkan (baik oleh “a Boy” maupun “a Girl”) untuk menjaga diri mereka dari memiliki sikap toxic adalah KEDEWASAAN dan KECERDASAN EMOSIONAL!

Mereka perlu tahu bagaimana caranya menyalurkan emosi mereka dengan cara sehat, dalam bentuk yang positif, serta yang paling penting TIDAK MENYAKITI diri mereka sendiri maupun ORANG LAIN

Hal ini TIDAK ADA HUBUNGANNYA SAMA SEKALI dengan sifat FEMININ, MASKULIN, atau perbedaan JENIS KELAMIN

Satu hal lagi yang perlu kita mengerti dari orang-orang yang memiliki sikap toxic dalam diri mereka (baik Laki-Laki maupun Perempuan) adalah kemungkinan bahwa mereka memiliki “luka”

Mereka mungkin memiliki “luka” karena pernah disakiti oleh orang lain, mungkin mereka “terluka” karena tidak mengerti apa hal yang seharusnya mereka lakukan untuk menyalurkan emosi negatif mereka, mungkin mereka terluka karena ingin menjadi “a Man/ a Woman” tapi tidak pernah mempunyai ROLE MODEL (Teladan/ Panutan) yang baik dalam menjadi hal tersebut

Lalu, jika mereka terluka kenapa kita tidak membantu mereka?
.
.
.

My Final Point is this…

Terdapat terlalu banyak negatifitas dan kebencian yang tersebar di antara kedua belah jenis kelamin belakangan ini yang disebabkan oleh kekurang pahaman akan hal yang telah saya jelaskan di atas

Dan seperti yang telah saya katakan, jika kita tahu bahwa alasan mereka melakukan hal tersebut karena mereka memiliki luka, kenapa kita tidak membantu mereka?

Tentu ini bukan menjadi pembenaran akan sikap-sikap “toxic” yang mereka lakukan

It sucks ketika kita menjadi pelampiasan emosi negatif orang-orang belum dewasa yang tidak tahu caranya menyalurkan emosi mereka dengan benar, dan wajar jika Anda menginginkan “keadilan” atas hal tersebut

Namun “keadilan” bukanlah hal yang sama dengan “balas dendam”, menjadi jahat dan menyebarkan kebencian juga TIDAK AKAN MEMBANTU dalam menyelesaikan hal tersebut

Berbuatlah baik dan sebarkanlah kebaikan

Bukankah kita diciptakan berbeda-beda tujuannya adalah untuk saling mengenal?

Dosen mata kuliah Paradigma Feminis saya pernah berkata bahwa “Laki-laki dan Perempuan memang diciptakan berbeda, namun bukan untuk dibeda-bedakan”

Lalu jika saya boleh menambahkan, “melainkan untuk di-satu-kan dalam perbedaan tersebut”

Be the LOVE you want to see in the world

 

Yanuar D Liwang

~

Butuh konsultasi untuk menyelesaikan masalah Anda? Hubungi saya disini

Ingin artikel seperti ini dikirimkan langsung kepada Anda via e-mail setiap minggunya? Subscribe ke Mailing List kami pada form di pojok kanan atas halaman ini !

Leave a Reply